Briptu norman, seorang anggota polisi yang namanya dalam sekedipan mata melonjak dan meroket karena video chayya-chayya yang diuploadnya ke youtube, kini telah dipecat sebagai anggota Brimob. Dalam ketenarannya, Norman Kamaru benar menyedot perhatian jutaan orang di indonesia tak terkecuali di daerahnya sendiri Gorontalo. Wibawanya sebagai polisi menyebar luas ke banyak media baik elektronik atau media non elektronik. Kita semua benar-benar tidak menyangka akan sedahsyat itu. Dan dalam sekejap juga, norman kamaru telah menjadi selebriti papan atas dengan bayaran sangat tinggi ( menurut berita yang saya dengar di televisi ). Akhirnya Norman lupa akan tugas utamanya sebagai polisi. Sang Briptu Norman telah lebih memilih menjadi selebriti dari pada polisi. Dengan alasan tersebut maka ia dipecat. Menurut media yang saya baca, Briptu Norman dipecat dengan tidak hormat karena telah 80 hari tidak masuk kantor. Adanya Harapan bahwa dengan hadirnya Sang Briptu di dalam kancah selebriti Indonesia bisa mengharumkan citra polisi akhirnya sirna.

Dengan kejadian ini kita harus menyadari bahwa yang instan-instan atau kejadian besar dengan tiba-tiba, biasanya dalam sekejap akan hilang. Bisa kita amati para pendahulu Norman. Meroket dalam hitungan hari, dan tenggelam dalam hitungan hari pula. Instan memang cepat. Tapi cepat pula basinya. Manusia di zaman modern selalu mengimpikan sesuatu dengen cepat. Tanpa payah dan lelah. Langsung jadi. Padahal yang cepat maka cepat pula pudarnya. Contoh saja mie instan. Dalam hitungan jadilah makanan. Tapi dalam hitungan menit pula mie jika tidak langsung dimakan, akan menjadi kurang sedap dipandang dan kurang enak dimakan. Apakah ini sedang terjadi pada Briptu Norman? Menurut saya ya. Karena dalam sejarah munculnya Sang Briptu bisa menjadi unik dan lucu dan membuatnya terkenal adalah karena status sebagai polisi. Respon masyarakat yang menganggap polisi itu garang dan kaku telah dihapus oleh hadirnya Briptu Norman yang asyik, lucu, suka joget, suka nyanyi dan selalu menebar senyum di mana-mana. Masyarakat sangat menaruh harapan akan citra polisi yang baik. Tapi kini, Briptu Norman telah keluar dari kepolisian dengan tidak hormat lagi. Akankah nama polisi akan membaik? Dan akankah nama Briptu Norman menjadi baik juga di dunia selebriti? Kita tidak tahu pasti. Yang jelas polisi harus jalan masing-masing. Tidak bisa mengandalkan Briptu Norman untuk mengangkat citra polisi di tengah masyarakat. Norman juga demikian. Dengan terlepas dia dari polisi maka dia harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan proffesionalismenya sebagai selebriti.

Sedangkan anda para blogger, anda mau yang istan nggak? Bermain blogging dengan tulisan asli berkwalitas atau bermain copas? He he he. Copas adalah blogging juga tapi dengan cara instan. Pilihan ada di tangan anda. Saya tidak mengharamkan kok aksi para blogger yang main copas sana sini. Soalnya kadang saya juga nyelonong ke sana. Tapi yang jelas instan lebih cepat. Tapi lebih cepat juga menghilang.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pencarian Artikel ini dengan Kata Kunci:

Bagikan Artikel ini Ke Teman-teman anda di Facebook KLIK DINI

Ingin mendapat update artikel terbaru langsung ke Email anda? Silahkan masukkan alamat email anda untuk berlangganan. Cara Berlangganan silahkan baca petunjuknya KLIK DI SINI

Masukkan Email Anda Di Bawah ini dan Klik Tombol Berlangganan:

Delivered by FeedBurner